ABSTRAK
Nilai
budi pekerti sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan pendidikan nilai-nilai
kemanusiaan. Nilai- nilai budi pekerti atau umum disebut pendidikan budi
pekerti juga erat kaitannya dengan pendidikan moral, etika, tatakrama, dan
didalam ajaran agama hindu disebut tata susila hindi dharma. Semua itu mengacu
pada pembentukan karater atau watak manusia ke arah yang mulia. Pendidikan yang
baik atau pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang berkeseimbangan antara
pendidikan berpikir (pendidikan sains)
dan pendidikan kemanusiaan (humaniora). Pendidikan yang berkeseimbangan
tersebut memungkinkan pengembangan fungsi otak kiri dan otak kanan.Kata kunci : pendidikan dan nilai - nilai budi pekerti disekolah
ABSTRACT
Values
to actual values of character education is not much different from the values
of humanity. Values or general character
called character education is al so too closely related to moral education,
ethical manners, and in the teachings of hinduism in hindu dharma called
deontologi. All in defers to the formation of human character or disposition
towads noble. Good education or a good- qualty education is education that
balance between educational thinking ( science education ) an humatarian
education (humanities education ). A balanced education that enables the deve
lopment of brain function left and right
brain balance.Keyword : education and moral values in school
A. PENDAHULUAN
Pemerintahan dan rakyat[1],
dewasa ini tengah gencar- gencarnya menyimplementasikan pendidikan karakter di
institusi pendidikan, mulai dari tingkat dini (PAUD) sekolah dasar (SD/MI),
sekolah menengah (SMA/MA), hingga perguruan tinggi melalui pendidikan karakter
yang di implementasikan dalam institusi pendidikan. Di harapkan krisis
degradasi karakter atau moralitas anak bangsa ini bisa segera teratasi. Lebih
dari itu, d harapkan di masa yang akan datang terlahir generi bangsa dengan
ketinggian budi pekerti atau karakter. Itulah ancangan mulai pemerintah dan
rakyat kita, yang patut di dukung oleh segenap elemen.
Munculnya kesabaran mengaplikasikan pendidikan karakter itu, dibidan fenomena degradasi moralitas generasi muda saat ini, yang penulis diistilahkan ‘’sudah diambang sekarat.’’ Carut- marutnya moralitas anak bangsa itu, bisa kita amati dalam kehidupan sehari- hari. Contah paling sederhana adalah ketika berlalu lintas, dimana bukan hilangnya ketaatan pada rambu- rambu atau aturan yang ada,tetapi juga sudah sirna nya toleransi dan sopan santun antar sesama pengguna jalan.
Selain tawuran,[2] generasi muda khususnya para pelajar, justru membudayakan kebiasaan buruk. Pada jam pelajaran misalnya, bukannya mereka tekun mengikuti kegiatan pembelajaran dikelas, mereka justru memilih’’ nongkrong’’ diwarnet, kantin sekolah, dan sebagainya. Itu tidak hanya terjadi di beberapa sekolah swasta yang kurang terkenal. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian, penulis dapat menyimpulkan bahwa degradasi moralitas yang membidani fenomena itu.
Jadi pendidikan disebagian besar sekolah kita baru sebatas wacana, sehingga belum mampu diaplikasikan. Pada kondisi demikian, sukar diharapkan perbaikan karakter peserta didik. Dan untuk lebih mengerti tentang pendidikan nilai karakter, tujuan dan landasan pendidikan nilai karakter, dan pendekatan pendidikan karakter. Maka kita akan membahas ketiga istilah tersebut dengan satu persatu dalam pembahasan dibawah ini
B. PENGERTIAN PENDIDIKAN NILAI BUDI PEKERTI
Secara etimologis budi pekerti dapat dimaknai sebagai penampilan diri yang berbudi.[3] Secara leksikal, budi pekerti adalah tingkah laku, perangai akhlak, sedangkan kata budi artinya alat batin yang merupakan paduan akal perasaan untuk menimbulkan baik buruknya. Secara operasional, budi pekerti dapat dimaknai sebagai perilaku yang tercermin dalam kata, perbuatan, pikiran, sikap, perasaan, keinginan dan hasil karya. Dalam hal ini budi pekerti diartikan sebagai sikap dan perilaku sehari- hari baik individu keluarga maupun masyarakat bangsa, yang mengandung nilai- nilai berlaku dan dianut dalam betuk jati diri. Nilai persatuan dan kesatuan, integritas dan kesinambungan masa depan dalam suatu sistem nilai moral, dan yang menjadi pedoman perilaku manusia (indonesia) untuk masyarakat berbangsa dan bernegara. Dengan bersumber dengan falsafah pancasila diilhami dengan ajaran agama serta budaya indonesia.
Pendidikan karakter mencoba melukiskan pilar- pilar penting dalam pendidikan karakter meliputi 9 pilar yang kait- mengait,[4] yaitu:
1.tangung jawab (responsibility)
2. rasa hormat (respect)
3.keadilan (fairness)
4. keberanian (courage)
5. kejujuran (honesty)
6. kewarganegaraan (citizenship)
7.disiplin diri (self- discipline)
8. peduli (caring)
9. ketekunan (perseverance)
Dalam uraian tersebut, dijelaskan bahwa nilai- nilai dasar kemanusiaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek.dismping itu, pendidikan karakter memang harus di bangun dirumah, dan dikembangkan dilembaga pendidikan sekolah, bahkan diterapkan secara nyata didalam masyarakat dan bahkan termasuk didalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri.
Menurut sastrapratedja, [5] pendidikan nilai budi pekerti (karakter) adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Penanaman dan pengembangan nilai itu merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan yang tidak hanya terpokus pada pengembangan ilmu, keterampilan, teknologi, tetapi juga pengembangan aspek-aspek lain nya, seperti kepribadian, etik moral, dan yang lain. Hal ini senada dengan pendapat suwito [6] bahwa hakikat pendidikan akhlak karakter adalah inti semua jenis pendidikan karena di arahkan pada tercipta nya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang, baik terhadap diri nya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi kedalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.
Menurut Aristoteles dalam book on Ethics dan book on Categoris yang di kutip ibnu Miskawaih, [7] mengungkapkan bahwa orang yang buruk bisa berubah menjadi baik melalui pendidikan. Namun demikian, hal itu bersifat tidak pasti. Ia beranggapan bahwa nasehat yang berulang-ulang dan di siplin serta bimbingan yang baik akan melahirkan hasil-hasil yang berbeda-beda pada berbagai orang. Sebagian diantara mereka tanggap dan segera menerima nya. Setiap karakter dapat berubah, dengan demikian, tidak ada karakter yang alami. Pendidikan karakter punya kemungkinan untuk di ubah, dan sudah di uraikan. Jelaslah dari opserpasi aktual dimana bukti yang di dapatkan perlu ada nya pendidikan, dan pengaruh pendidikan pada remaja anak-anak serta pengaruh dan dari syariat agama yang benar merupakan petunjuk Allah SWT kepada para mahkluk- Nya.
Beberapa karakter peserta didik yang dapat dipilih yaitu: baik hati, terus terang, bernalar, kesatria, bersahabat, percaya diri, belas kasih, murah hati, pengusaan diri, sadar, jujur, disiplin diri, suka kerja sama, terampil, mandiri, berani, adil, bijaksana, santun, setia, berkepedulian, tunduk dan toleran.
C. TUJUAN DAN LANDASAN PENDIDIKAN NILAI BUDI PEKERTI KARAKTER
Pendidikan karakter diselenggarakan untuk mewujudkan manusia yang berakhlak mulia dan bermoral baik sehingga kelangsungan hidup dan perkembangan manusia dapat di jaga dan dipelihara. Untukmewujudkan tujuan tersebut diperlukan upaya- upaya kolektif dari pihak keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, media massa, dunia usaha dan sebagainya. Dalam hal ini suyanto[8] , yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan cerdas secara komprehensif, keseluruhan aspek kecerdasan ganda tersebut.
Dengan demikian,pengertian karakter seharusnya merupakan bagian dari kercerdasan ganda yang dijelaskan Howard Gardner dengan teorinya kecerdasan ganda, yang meliputi tujuh macam kecerdasan yang sering di singkat SLIM n BIL, yaitu:
1. Spatial (kerungan)
2. Language (bahasa)
3. Intrapersonal (intrapersonal)
4. Music (musik)
5. Naturalist (naturalis- sayang kehidupan alam)
6. Bodily kinesthetics (olahraga- gerak badan)
7. Logical mathematics (logikal- matematis)[9]
Ketujuh tipe kecerdasan ganda menurut Howart Gardner tersebut terkait dengan potensi unirversal manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Itulah sebabnya, amatlah tepat amanat pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan tentang empat tujuan negara ini didirikan, salah satu tujuan itu adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa, “ dalam arti menemukan dan mengembangkan potensi kecerdasan semua anak bangsa. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan spatial, didiklah menjadi arsitek yang handal. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan language, didiklah menjadi ahli bahasa yang hebat. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan logical mathematics, didiklah menjadi intelektual yang andal.
Pengembangan ketujuh potensi kecerdasan tersebut, arsitek yang handal sudah barang tentu harus memilki enam atau sembilan pilar karakter yang telah disebutkan. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya. Anak- anak bangsa indonesia harus dikembangkan semua potensi kecerdasan gandanya. Upaya inilah yang menjadi kebijakan utama pembangunan pendidikan nasional. Amanat mencerdaskan kehidupan bangsa harus selalu menjiwai setiap daya upaya pembangunan pendidikan. Tidak ada pendidikan, tidak ada pembangunan sosial- ekonomi. Hanya dengan pendidikan, negeri ini akan dapat kita menjadi negara dan bangsa yang memiliki daya saing yang setaraf dengan negara dan bangsa lain di dunia.
Berdasarkan uraian di atas, tujuan pendidikan nilai budi pekerti (karakter) dapat diklasifikasikan atas dua hal berikut. Pertama, tujuan umum, yaitu untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, dan mengalami nilai- nilai serta manpu menempatkannya secara integral dalm kehidupan. Untuk mencapai tujuan itu tindakan- tindakan pendidikan hendaknya mengarah pada perilaku yang dan benar. Kedua, tujuan khusus, seperti yang dirumuskan komite APEID (Asia and the pasific programme of educational Innovation for development), bahwa pendidikan nilai bertujuan untuk, menerapkan pembentukan nilai kepada anak, menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai- nilai yang dinginkan, dan membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai- nilai tersebut[10]. Dengan demikian, tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha pnyedaran nilai sampai pada perwujudan perilku- perilaku yang bernilai.[11]
Ada empat landasan yang berkaitan dengan pendidikan nilai, yakni landasan filosofis, psikologis, sosiologis, dan estetis. Landasan filosofis memilki dua kemungkinan posisi. Pertama, filsafat pendidikan nilai pada dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran krena nilai adalah esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. Kedua, filsafat pendidiakn nilai berlaku secara selektif terhadap kebenaran hakikat manusia dicapai oleh suatu aliran pemikiran tertentu karena nilai selain sebagai esensi hakikat manusia juga menyangkut substansi kebenaran yang dapat berlaku kontstual dan situasional. Landasan psikologis berkaitan dengan aspek motivasi, perbedaan individu, dan tahapan belajar nilai dimana setiap individu tidak sama persis namun terjadi perbedaab aspek psikis yang berpengaruh pada perilaku masing- masing. Landasan sosiologis berhubungan dengan hakikat manusia sebagai mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya keterlibatan orang lain atau melibatkan diri dengan orang lain, saling berhubungan, dan saling membutuhkan sehingga manusia membentuk komutitas atau lingkungan masyarakat. Proses sosial melibatkan sentimen moral yang berkadar kebaikan terhadap orang lain dan sentimen yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan kehidupan.
Target pendidikan nilai budi pekerti (karakter) sosial adalah membangun kesadaran interpersonal yang mendalam. Peserta didik dibimbing untuk mampu menjalin hubungan sosial secara harmonis dengan orang lain melalui sikap dan perilaku yang baik, dilatih untuk berprasangka baik kepada orang lain, berempati, suka menolong, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai perbedaan pendapat.
Pendidikan nilai budi pekerti (karakter) hanya mungkin bila nilai- nilai di berikan melalui praktik- praktik hidup peserta didik itu sendiri, lebih dari sekedar pemberian informasi mengenai nilai- nilai.[12] Hal yang terpenting dalam pendidikan nilai adallah membentuk peserta didik agar menumbuhkan keterbukaaan dan kejujuran hati. Keterbukaan hati peserta didk dapat dibantu melalui pendampingan dengan memberi contoh yang baik dalam mewujudkan nilai- nilai kata- kata guru, perilaku, dan tindakan dalam pendidikan nilai kepada peserta didik memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan pada benak pikiran siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperlihatkan setiap tindakannya yang benar agar selanjutnya dapat dicerna oleh pikiran siswa. Ketika guru menyediakan suatu lingkungan dan pengalaman yang baik di dalam sekolah, siswa dapat belajar dari arti hidup, mengalisis diri sendiri, pemahaman kehidupan sosial, dan lingkungan. Pendidikan yang mendasarkan diri pada nilai akan dapat melahirkan anak- anak yang dikondisikan dan diseimbangkan menghadapi duka cita atau kegemburaan dalam segala situasi dan kondisi. Dihadapan anak- anak perlu diciptakan kondisi agar mereka menyadari akan pentingnya pengembangan nilai seperti keadilan, persamaan, persaudaraan kelompok, kebebasan, kesiplinan, dedikasi, konsentrasi, keyakinan diri, dan perhatian.
D. PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI KARAKTER
Para pakar telah mengemukakan berbagai pendekatan pendidikan nilai budi pekerti. Menurut Hersh, et, al.(1980),[13] diantara berbagai pendekatan yang berkembang, ada enam pendekatan yang banyak digunakan, yaitu pendekatan pengembangan rasional, pertimbangan, klarifikasi nilai, pengembangan moral kognitif, perilaku sosial, dan penanaman nilai. Berbeda dengan klafikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai pendekatan yang berkembang menjadi tiga, yakni pendekatan kognitif, pendekatan efektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi menurut Rest (1992) didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang bisa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni perilaku, kognisi, efeksi.
Pendekatan yang komprenhensif mengunakan semua aspek persekolahan sebagai peluang untuk pengembangan karakter. Hal ini mencakup apa yang sering disebut dengan istilah kurikulum tersembunyi, hidden curriculum (upacara dan prosedur sekolah, keteladanan guru, hubungan guru dan siswa, penilaian pembelajaran, pengelolaan lingkungan sekolah, dan kebijakan disiplin). Kurikulum akademik, (mata pelajaran inti, termasuk kurikulum kesehatan jasmani), dan program- program eksrakurikuler ( tim olah raga, klub, proyek pelayanan, dan kegiatan setelah jam sekolah). Disamping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektivitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari kemunitas yang lebih luas ( bisnis, organisasi muda, lembaga keagamaan, pemerintah, dan media) dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah orang tua ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik karena terlalu banyak menekankan penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan program. Berbagai pertemuan yang dilakukan tidak jarang terjebak kepada sekadar tawar- menawar sumbangan, bukan bagaimana sebaiknya pendidikan karakter dilakukan bersama antara keluarga dan sekolah. Pendidikan karakter yang efektif harus menyertakan usaha untuk menilai kemajuan.
Terdapat tiga hal penting yang perlu mendapat perhatianyaitu:
1.Karakter sekolah, sampai sejauh mana sekolah menjadi komunitas yang lebih peduli dan saling menghargai.
2.pertumbuhan staf sekolah sebagai pendidik karakter, sampai sejauh mana staf srkolah mengembangkan pemahaman tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk mendorong pengembangan karakter.
3.karakter siswa, sejauh mana siswa memanisfestasikan pemahaman, komitmen, dan tindakan atas nilai- nilai etis inti.
Pendidikan karakter ala Foerster,[14] dikutip oleh doni koesoema, yang berkembang pada awal abad ke- 19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan saraf muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.
Tradisi pendidikan diindonesia tampaknya belum matang untukmemeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan reigius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktif deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah mangunan tahun 1990-an. Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian Cuma mengulang apa yang dikatakan guru.
Jika nilai merupakan motor bergerak sejarah, aktulisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan dinamis terus- menerus. Manusia apapaun yang kultur yang melingkupinya, tetap agen bagi perjalanan sejarahnya sendiri. Karena itu lonjatan sejarah masih bisa terjadi dinegeri kita. Pendidikan masih memiliki tempat bagi optinisme idealis pendidikan dinegeri kita, terlebih dahulu bangsa kita kaya akan tradisi religius dan dudaya. Manusia yang memiliki religiositas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nila- nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatas namakan religiositas itu sendiri.
E. STRATEGI, METODE DAN TEKNIK PENDIDIKAN KARAKTER
Dengan penerapan metode langsung dimungkinkan nilai-nilai yang di indoktrinasi dapat di serap peserta didik baru, bahkan di hafal diluar kepala, tetapi tidak terinternalisasikan, apa lagi teramalkan. Kemungkinan ke dua, nilai-nilai tersebut di terapkan dalam kehidupan, tetapi berkat pengawasan pihak penguasa bukan atas kesadaran diri peserta didik. Dalam hal ini, nilai moral yang pelaksana nya seharus nya bersifat suka rela berubah menjadi nilai hukum.
Pendidikan nilai kepada peserta didik memerlukan adanya kesadaran para pendidik bersikap mendua. Misalnya jika peserta didik di tuntut berperilaku jujur, berucap dengan ucapan yang baik, maka konsekuensinya para pendidik di tuntut jujur tidak boleh mengajarkan kebohongan, dan bertutur kata yang baik. Perlu disadari bahwa setiap ucapan dan perilaku orang tua dan guru sangat mempengaruhi karakter anak-anak mereka. Dalam setiap interaksi, anak-anak cepat mendeteksi adanya kejujuran dengan mengenal konsistensi dari apa yang dikatakan dan di lakukan oleh orang dewasa.
Setrategi pendidikan nilai menurut setrategi komprehensif kirschenbaum,[15] meliputi setrategi inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
Setrategi ini dapat dipilih sesuai dengan banyak nya nilai yang dipilih untuk di tanamkan dan di kembangkan. Demikian pula, banyak sumber pengembangan nilai-nilai dan banyak pula faktor lain yang membatasi nya. Di sisi lain, keseluruhan kuikulum sekolah berfungsi sebagai sesuatu sumber penting pendidikan nilai. Aktivitas dan praktik yang demokratis di sekolah merupakan faktor efektif yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai, di samping kesediaan peserta didik melalui kedua metode tersebut, baik yang sudah dirancang dalam kurikulum maupun nilai yang terkandung di dalam kurikulum sebagai hiddent curriculum.
Yang ditetapkan dalam pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh ynag melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami. Oleh karena itu, pendidikan nilai tidak dapat di sajikan hanya oleh seorang guru atau hanya dalam satu pelajaran, yang megintegrasikan secara sendiri-sendiri atau dengan kombinasi. Berdasarkan latar belakang pemahaman dan analisis ini, ada beberapa setrategi yang dapat di usulkan, yaitu setrategi kegiatan belajar klasikal, setrategi kegiatan praktik, setrategi kegiatan dan teknik sosialisasi, serta setrategi belajar insidental.
Menurut Marianna Richardson,[16] ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pendidikan karakter, yaitu melalui sastra, sejarah, ilmu pengetahuan alam (IPA), dan matematika.
Melalui sastra, bagi pencipta buku, pelajaran nilai menjadi bagian integral dari apa yang dibaca atau dari karya sastra yang beranekaragam. Yang penting, kesemuanya itu mengandung itegrasi antara apa yang disajikan dalam karya sastra dan nilai- niali moral didalamnya. Peserta didik dapat diminta membandingkan dua karakter yang berbeda dan keputusan moral yang mereka buat.
Melalui pengajaran sejarah, strategi yang sama dengan diatas dapat untuk pendidikan nilai moral. Alur peristiwa dalam sejarah cukup penting untuk dipertimbangkan dan hal itu dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan anak didik.
Melalui pengajaran ilmu pengetahuan alam, banyak yang dapat didiskusikan bersama siswa yang berkenaan dengan nilai.
Pelajaran matematika, juga dapat wahana untuk pendidikan nilai kepada siswa. Siswa dapat diminta untuk menulis permasalahan yang memerlukan keputusan moral, menulis ulang merupakan strategi yang lebih menarik, setiap anak di minta untuk menulis kembali permasalahan dengan ungkapan mereka masing- masing.
F. PENUTUP
Pendidika dalam nilai budi pekerti ini sangatlah diutamakanuntuk melakukan berbagai cara agar lebih maju. Karena pendidikan merupakan kehidupan. Oleh karena itu benar kata WS Rendra dalam salah satu puisinya telah mempertanyakan tentang adanya” papan tulis- papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan. Mengapa demikian? Karena proses pendidikan pendidikan disekolah ternyata masih mengutamakan aspek kognitifnya ketimbang efektif dan psikomotoriknya. Bahkan, ujian nasionalnya pun lebih mementingkan aspek intelektualnya ketimbang aspek kejujurannya.
Dalam hal ini maka nilai budi pekerti dalam pendidikan karakter dalam pendidikan karakter di perlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab. Maka dari itu, terpikirlah oleh para cerdik pandai tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter.
Berdasarkan uraian tesebut, tujuan pendidikan nilai budi pekerti karaketr pada diklasifikasikan atas dua hal yaitu: pertama, tujuan umum yaitu berkaitan untuk membantu peserta didik agar dapat memahami, menyadari, dan mengalami nilai- nilai serta menempatkan secara integral dalam pembelajaran dan serta dalam pendidikan. Untuk mencapai tujuan itu tindakan- tindakan hendaknyamengarah pada prilaku yang baik dan benar. Kedua, tujuan khusus bertujuan dalam nilai pendidikan untuk, menerapkan pembentukan nilai kepada peserta menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai- nilai yang diinginkan.
Munculnya kesabaran mengaplikasikan pendidikan karakter itu, dibidan fenomena degradasi moralitas generasi muda saat ini, yang penulis diistilahkan ‘’sudah diambang sekarat.’’ Carut- marutnya moralitas anak bangsa itu, bisa kita amati dalam kehidupan sehari- hari. Contah paling sederhana adalah ketika berlalu lintas, dimana bukan hilangnya ketaatan pada rambu- rambu atau aturan yang ada,tetapi juga sudah sirna nya toleransi dan sopan santun antar sesama pengguna jalan.
Selain tawuran,[2] generasi muda khususnya para pelajar, justru membudayakan kebiasaan buruk. Pada jam pelajaran misalnya, bukannya mereka tekun mengikuti kegiatan pembelajaran dikelas, mereka justru memilih’’ nongkrong’’ diwarnet, kantin sekolah, dan sebagainya. Itu tidak hanya terjadi di beberapa sekolah swasta yang kurang terkenal. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian, penulis dapat menyimpulkan bahwa degradasi moralitas yang membidani fenomena itu.
Jadi pendidikan disebagian besar sekolah kita baru sebatas wacana, sehingga belum mampu diaplikasikan. Pada kondisi demikian, sukar diharapkan perbaikan karakter peserta didik. Dan untuk lebih mengerti tentang pendidikan nilai karakter, tujuan dan landasan pendidikan nilai karakter, dan pendekatan pendidikan karakter. Maka kita akan membahas ketiga istilah tersebut dengan satu persatu dalam pembahasan dibawah ini
B. PENGERTIAN PENDIDIKAN NILAI BUDI PEKERTI
Secara etimologis budi pekerti dapat dimaknai sebagai penampilan diri yang berbudi.[3] Secara leksikal, budi pekerti adalah tingkah laku, perangai akhlak, sedangkan kata budi artinya alat batin yang merupakan paduan akal perasaan untuk menimbulkan baik buruknya. Secara operasional, budi pekerti dapat dimaknai sebagai perilaku yang tercermin dalam kata, perbuatan, pikiran, sikap, perasaan, keinginan dan hasil karya. Dalam hal ini budi pekerti diartikan sebagai sikap dan perilaku sehari- hari baik individu keluarga maupun masyarakat bangsa, yang mengandung nilai- nilai berlaku dan dianut dalam betuk jati diri. Nilai persatuan dan kesatuan, integritas dan kesinambungan masa depan dalam suatu sistem nilai moral, dan yang menjadi pedoman perilaku manusia (indonesia) untuk masyarakat berbangsa dan bernegara. Dengan bersumber dengan falsafah pancasila diilhami dengan ajaran agama serta budaya indonesia.
Pendidikan karakter mencoba melukiskan pilar- pilar penting dalam pendidikan karakter meliputi 9 pilar yang kait- mengait,[4] yaitu:
1.tangung jawab (responsibility)
2. rasa hormat (respect)
3.keadilan (fairness)
4. keberanian (courage)
5. kejujuran (honesty)
6. kewarganegaraan (citizenship)
7.disiplin diri (self- discipline)
8. peduli (caring)
9. ketekunan (perseverance)
Dalam uraian tersebut, dijelaskan bahwa nilai- nilai dasar kemanusiaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek.dismping itu, pendidikan karakter memang harus di bangun dirumah, dan dikembangkan dilembaga pendidikan sekolah, bahkan diterapkan secara nyata didalam masyarakat dan bahkan termasuk didalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri.
Menurut sastrapratedja, [5] pendidikan nilai budi pekerti (karakter) adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Penanaman dan pengembangan nilai itu merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan yang tidak hanya terpokus pada pengembangan ilmu, keterampilan, teknologi, tetapi juga pengembangan aspek-aspek lain nya, seperti kepribadian, etik moral, dan yang lain. Hal ini senada dengan pendapat suwito [6] bahwa hakikat pendidikan akhlak karakter adalah inti semua jenis pendidikan karena di arahkan pada tercipta nya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang, baik terhadap diri nya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi kedalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.
Menurut Aristoteles dalam book on Ethics dan book on Categoris yang di kutip ibnu Miskawaih, [7] mengungkapkan bahwa orang yang buruk bisa berubah menjadi baik melalui pendidikan. Namun demikian, hal itu bersifat tidak pasti. Ia beranggapan bahwa nasehat yang berulang-ulang dan di siplin serta bimbingan yang baik akan melahirkan hasil-hasil yang berbeda-beda pada berbagai orang. Sebagian diantara mereka tanggap dan segera menerima nya. Setiap karakter dapat berubah, dengan demikian, tidak ada karakter yang alami. Pendidikan karakter punya kemungkinan untuk di ubah, dan sudah di uraikan. Jelaslah dari opserpasi aktual dimana bukti yang di dapatkan perlu ada nya pendidikan, dan pengaruh pendidikan pada remaja anak-anak serta pengaruh dan dari syariat agama yang benar merupakan petunjuk Allah SWT kepada para mahkluk- Nya.
Beberapa karakter peserta didik yang dapat dipilih yaitu: baik hati, terus terang, bernalar, kesatria, bersahabat, percaya diri, belas kasih, murah hati, pengusaan diri, sadar, jujur, disiplin diri, suka kerja sama, terampil, mandiri, berani, adil, bijaksana, santun, setia, berkepedulian, tunduk dan toleran.
C. TUJUAN DAN LANDASAN PENDIDIKAN NILAI BUDI PEKERTI KARAKTER
Pendidikan karakter diselenggarakan untuk mewujudkan manusia yang berakhlak mulia dan bermoral baik sehingga kelangsungan hidup dan perkembangan manusia dapat di jaga dan dipelihara. Untukmewujudkan tujuan tersebut diperlukan upaya- upaya kolektif dari pihak keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, media massa, dunia usaha dan sebagainya. Dalam hal ini suyanto[8] , yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan cerdas secara komprehensif, keseluruhan aspek kecerdasan ganda tersebut.
Dengan demikian,pengertian karakter seharusnya merupakan bagian dari kercerdasan ganda yang dijelaskan Howard Gardner dengan teorinya kecerdasan ganda, yang meliputi tujuh macam kecerdasan yang sering di singkat SLIM n BIL, yaitu:
1. Spatial (kerungan)
2. Language (bahasa)
3. Intrapersonal (intrapersonal)
4. Music (musik)
5. Naturalist (naturalis- sayang kehidupan alam)
6. Bodily kinesthetics (olahraga- gerak badan)
7. Logical mathematics (logikal- matematis)[9]
Ketujuh tipe kecerdasan ganda menurut Howart Gardner tersebut terkait dengan potensi unirversal manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Itulah sebabnya, amatlah tepat amanat pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan tentang empat tujuan negara ini didirikan, salah satu tujuan itu adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa, “ dalam arti menemukan dan mengembangkan potensi kecerdasan semua anak bangsa. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan spatial, didiklah menjadi arsitek yang handal. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan language, didiklah menjadi ahli bahasa yang hebat. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan logical mathematics, didiklah menjadi intelektual yang andal.
Pengembangan ketujuh potensi kecerdasan tersebut, arsitek yang handal sudah barang tentu harus memilki enam atau sembilan pilar karakter yang telah disebutkan. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya. Anak- anak bangsa indonesia harus dikembangkan semua potensi kecerdasan gandanya. Upaya inilah yang menjadi kebijakan utama pembangunan pendidikan nasional. Amanat mencerdaskan kehidupan bangsa harus selalu menjiwai setiap daya upaya pembangunan pendidikan. Tidak ada pendidikan, tidak ada pembangunan sosial- ekonomi. Hanya dengan pendidikan, negeri ini akan dapat kita menjadi negara dan bangsa yang memiliki daya saing yang setaraf dengan negara dan bangsa lain di dunia.
Berdasarkan uraian di atas, tujuan pendidikan nilai budi pekerti (karakter) dapat diklasifikasikan atas dua hal berikut. Pertama, tujuan umum, yaitu untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, dan mengalami nilai- nilai serta manpu menempatkannya secara integral dalm kehidupan. Untuk mencapai tujuan itu tindakan- tindakan pendidikan hendaknya mengarah pada perilaku yang dan benar. Kedua, tujuan khusus, seperti yang dirumuskan komite APEID (Asia and the pasific programme of educational Innovation for development), bahwa pendidikan nilai bertujuan untuk, menerapkan pembentukan nilai kepada anak, menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai- nilai yang dinginkan, dan membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai- nilai tersebut[10]. Dengan demikian, tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha pnyedaran nilai sampai pada perwujudan perilku- perilaku yang bernilai.[11]
Ada empat landasan yang berkaitan dengan pendidikan nilai, yakni landasan filosofis, psikologis, sosiologis, dan estetis. Landasan filosofis memilki dua kemungkinan posisi. Pertama, filsafat pendidikan nilai pada dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran krena nilai adalah esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. Kedua, filsafat pendidiakn nilai berlaku secara selektif terhadap kebenaran hakikat manusia dicapai oleh suatu aliran pemikiran tertentu karena nilai selain sebagai esensi hakikat manusia juga menyangkut substansi kebenaran yang dapat berlaku kontstual dan situasional. Landasan psikologis berkaitan dengan aspek motivasi, perbedaan individu, dan tahapan belajar nilai dimana setiap individu tidak sama persis namun terjadi perbedaab aspek psikis yang berpengaruh pada perilaku masing- masing. Landasan sosiologis berhubungan dengan hakikat manusia sebagai mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya keterlibatan orang lain atau melibatkan diri dengan orang lain, saling berhubungan, dan saling membutuhkan sehingga manusia membentuk komutitas atau lingkungan masyarakat. Proses sosial melibatkan sentimen moral yang berkadar kebaikan terhadap orang lain dan sentimen yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan kehidupan.
Target pendidikan nilai budi pekerti (karakter) sosial adalah membangun kesadaran interpersonal yang mendalam. Peserta didik dibimbing untuk mampu menjalin hubungan sosial secara harmonis dengan orang lain melalui sikap dan perilaku yang baik, dilatih untuk berprasangka baik kepada orang lain, berempati, suka menolong, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai perbedaan pendapat.
Pendidikan nilai budi pekerti (karakter) hanya mungkin bila nilai- nilai di berikan melalui praktik- praktik hidup peserta didik itu sendiri, lebih dari sekedar pemberian informasi mengenai nilai- nilai.[12] Hal yang terpenting dalam pendidikan nilai adallah membentuk peserta didik agar menumbuhkan keterbukaaan dan kejujuran hati. Keterbukaan hati peserta didk dapat dibantu melalui pendampingan dengan memberi contoh yang baik dalam mewujudkan nilai- nilai kata- kata guru, perilaku, dan tindakan dalam pendidikan nilai kepada peserta didik memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan pada benak pikiran siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperlihatkan setiap tindakannya yang benar agar selanjutnya dapat dicerna oleh pikiran siswa. Ketika guru menyediakan suatu lingkungan dan pengalaman yang baik di dalam sekolah, siswa dapat belajar dari arti hidup, mengalisis diri sendiri, pemahaman kehidupan sosial, dan lingkungan. Pendidikan yang mendasarkan diri pada nilai akan dapat melahirkan anak- anak yang dikondisikan dan diseimbangkan menghadapi duka cita atau kegemburaan dalam segala situasi dan kondisi. Dihadapan anak- anak perlu diciptakan kondisi agar mereka menyadari akan pentingnya pengembangan nilai seperti keadilan, persamaan, persaudaraan kelompok, kebebasan, kesiplinan, dedikasi, konsentrasi, keyakinan diri, dan perhatian.
D. PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI KARAKTER
Para pakar telah mengemukakan berbagai pendekatan pendidikan nilai budi pekerti. Menurut Hersh, et, al.(1980),[13] diantara berbagai pendekatan yang berkembang, ada enam pendekatan yang banyak digunakan, yaitu pendekatan pengembangan rasional, pertimbangan, klarifikasi nilai, pengembangan moral kognitif, perilaku sosial, dan penanaman nilai. Berbeda dengan klafikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai pendekatan yang berkembang menjadi tiga, yakni pendekatan kognitif, pendekatan efektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi menurut Rest (1992) didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang bisa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni perilaku, kognisi, efeksi.
Pendekatan yang komprenhensif mengunakan semua aspek persekolahan sebagai peluang untuk pengembangan karakter. Hal ini mencakup apa yang sering disebut dengan istilah kurikulum tersembunyi, hidden curriculum (upacara dan prosedur sekolah, keteladanan guru, hubungan guru dan siswa, penilaian pembelajaran, pengelolaan lingkungan sekolah, dan kebijakan disiplin). Kurikulum akademik, (mata pelajaran inti, termasuk kurikulum kesehatan jasmani), dan program- program eksrakurikuler ( tim olah raga, klub, proyek pelayanan, dan kegiatan setelah jam sekolah). Disamping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektivitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari kemunitas yang lebih luas ( bisnis, organisasi muda, lembaga keagamaan, pemerintah, dan media) dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah orang tua ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik karena terlalu banyak menekankan penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan program. Berbagai pertemuan yang dilakukan tidak jarang terjebak kepada sekadar tawar- menawar sumbangan, bukan bagaimana sebaiknya pendidikan karakter dilakukan bersama antara keluarga dan sekolah. Pendidikan karakter yang efektif harus menyertakan usaha untuk menilai kemajuan.
Terdapat tiga hal penting yang perlu mendapat perhatianyaitu:
1.Karakter sekolah, sampai sejauh mana sekolah menjadi komunitas yang lebih peduli dan saling menghargai.
2.pertumbuhan staf sekolah sebagai pendidik karakter, sampai sejauh mana staf srkolah mengembangkan pemahaman tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk mendorong pengembangan karakter.
3.karakter siswa, sejauh mana siswa memanisfestasikan pemahaman, komitmen, dan tindakan atas nilai- nilai etis inti.
Pendidikan karakter ala Foerster,[14] dikutip oleh doni koesoema, yang berkembang pada awal abad ke- 19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan saraf muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.
Tradisi pendidikan diindonesia tampaknya belum matang untukmemeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan reigius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktif deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah mangunan tahun 1990-an. Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian Cuma mengulang apa yang dikatakan guru.
Jika nilai merupakan motor bergerak sejarah, aktulisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan dinamis terus- menerus. Manusia apapaun yang kultur yang melingkupinya, tetap agen bagi perjalanan sejarahnya sendiri. Karena itu lonjatan sejarah masih bisa terjadi dinegeri kita. Pendidikan masih memiliki tempat bagi optinisme idealis pendidikan dinegeri kita, terlebih dahulu bangsa kita kaya akan tradisi religius dan dudaya. Manusia yang memiliki religiositas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nila- nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatas namakan religiositas itu sendiri.
E. STRATEGI, METODE DAN TEKNIK PENDIDIKAN KARAKTER
Dengan penerapan metode langsung dimungkinkan nilai-nilai yang di indoktrinasi dapat di serap peserta didik baru, bahkan di hafal diluar kepala, tetapi tidak terinternalisasikan, apa lagi teramalkan. Kemungkinan ke dua, nilai-nilai tersebut di terapkan dalam kehidupan, tetapi berkat pengawasan pihak penguasa bukan atas kesadaran diri peserta didik. Dalam hal ini, nilai moral yang pelaksana nya seharus nya bersifat suka rela berubah menjadi nilai hukum.
Pendidikan nilai kepada peserta didik memerlukan adanya kesadaran para pendidik bersikap mendua. Misalnya jika peserta didik di tuntut berperilaku jujur, berucap dengan ucapan yang baik, maka konsekuensinya para pendidik di tuntut jujur tidak boleh mengajarkan kebohongan, dan bertutur kata yang baik. Perlu disadari bahwa setiap ucapan dan perilaku orang tua dan guru sangat mempengaruhi karakter anak-anak mereka. Dalam setiap interaksi, anak-anak cepat mendeteksi adanya kejujuran dengan mengenal konsistensi dari apa yang dikatakan dan di lakukan oleh orang dewasa.
Setrategi pendidikan nilai menurut setrategi komprehensif kirschenbaum,[15] meliputi setrategi inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
Setrategi ini dapat dipilih sesuai dengan banyak nya nilai yang dipilih untuk di tanamkan dan di kembangkan. Demikian pula, banyak sumber pengembangan nilai-nilai dan banyak pula faktor lain yang membatasi nya. Di sisi lain, keseluruhan kuikulum sekolah berfungsi sebagai sesuatu sumber penting pendidikan nilai. Aktivitas dan praktik yang demokratis di sekolah merupakan faktor efektif yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai, di samping kesediaan peserta didik melalui kedua metode tersebut, baik yang sudah dirancang dalam kurikulum maupun nilai yang terkandung di dalam kurikulum sebagai hiddent curriculum.
Yang ditetapkan dalam pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh ynag melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami. Oleh karena itu, pendidikan nilai tidak dapat di sajikan hanya oleh seorang guru atau hanya dalam satu pelajaran, yang megintegrasikan secara sendiri-sendiri atau dengan kombinasi. Berdasarkan latar belakang pemahaman dan analisis ini, ada beberapa setrategi yang dapat di usulkan, yaitu setrategi kegiatan belajar klasikal, setrategi kegiatan praktik, setrategi kegiatan dan teknik sosialisasi, serta setrategi belajar insidental.
Menurut Marianna Richardson,[16] ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pendidikan karakter, yaitu melalui sastra, sejarah, ilmu pengetahuan alam (IPA), dan matematika.
Melalui sastra, bagi pencipta buku, pelajaran nilai menjadi bagian integral dari apa yang dibaca atau dari karya sastra yang beranekaragam. Yang penting, kesemuanya itu mengandung itegrasi antara apa yang disajikan dalam karya sastra dan nilai- niali moral didalamnya. Peserta didik dapat diminta membandingkan dua karakter yang berbeda dan keputusan moral yang mereka buat.
Melalui pengajaran sejarah, strategi yang sama dengan diatas dapat untuk pendidikan nilai moral. Alur peristiwa dalam sejarah cukup penting untuk dipertimbangkan dan hal itu dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan anak didik.
Melalui pengajaran ilmu pengetahuan alam, banyak yang dapat didiskusikan bersama siswa yang berkenaan dengan nilai.
Pelajaran matematika, juga dapat wahana untuk pendidikan nilai kepada siswa. Siswa dapat diminta untuk menulis permasalahan yang memerlukan keputusan moral, menulis ulang merupakan strategi yang lebih menarik, setiap anak di minta untuk menulis kembali permasalahan dengan ungkapan mereka masing- masing.
F. PENUTUP
Pendidika dalam nilai budi pekerti ini sangatlah diutamakanuntuk melakukan berbagai cara agar lebih maju. Karena pendidikan merupakan kehidupan. Oleh karena itu benar kata WS Rendra dalam salah satu puisinya telah mempertanyakan tentang adanya” papan tulis- papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan. Mengapa demikian? Karena proses pendidikan pendidikan disekolah ternyata masih mengutamakan aspek kognitifnya ketimbang efektif dan psikomotoriknya. Bahkan, ujian nasionalnya pun lebih mementingkan aspek intelektualnya ketimbang aspek kejujurannya.
Dalam hal ini maka nilai budi pekerti dalam pendidikan karakter dalam pendidikan karakter di perlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab. Maka dari itu, terpikirlah oleh para cerdik pandai tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter.
Berdasarkan uraian tesebut, tujuan pendidikan nilai budi pekerti karaketr pada diklasifikasikan atas dua hal yaitu: pertama, tujuan umum yaitu berkaitan untuk membantu peserta didik agar dapat memahami, menyadari, dan mengalami nilai- nilai serta menempatkan secara integral dalam pembelajaran dan serta dalam pendidikan. Untuk mencapai tujuan itu tindakan- tindakan hendaknyamengarah pada prilaku yang baik dan benar. Kedua, tujuan khusus bertujuan dalam nilai pendidikan untuk, menerapkan pembentukan nilai kepada peserta menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai- nilai yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Sastrapratedja. 2000 Pendidikan Nilai Jakarta: Gramedia
Suwito. 2004 Pendidikan Akhlak Yogyakarta: Belukar
Aristoteles. 2004 menuju kesempurnaan Akhlak Bandung : Filsafat Etika
Suyanto. 2010 Pendidikan Karakter dan Kecerdasan Jakarta: Pustaka Setia
Hadiwaryono, Al Purwo. 2000 Pendidikan Nilai Karakter Jakarta: Bumi Aksara
[1]
Agus Wibowo. 2008 Mal Praktik Pendidikan Yogyakarta: Genta Press hlm.1
2Agus Wibowo. 2008 Mal Praktik Pendidikan Yogyakarta: Genta Press hlm. 2
[3] Mardiatmadja dikutip Rahmat Mulyono. 2004 Mengartikulasikan Nilai Budi Perkerti Bandung: Alfabeta hlm.48
[4] Mardiatmadja dikutip Rahmat Mulyono.2004 Mengartikulasikan Nilai Budi Perkerti Bandung: Alfabeta hlm.49
[5] Sastrapratedja. 2000 Pendidikan Nilai Jakarta:Gramedia hlm.3
[6] Suwito. 2004 Pendidikan Akhlak Yogyakarta:Belukar hlm.4
[7] Aristoteles dikutip Ibn Miskawaih. 2004 Menuju kesempurnaan Akhlak Bandung: Filsafat Etika hlm. 5
[8] Suyanto dikutip Suparlan.2010 Pendidikan karakter dan kecerdasan Jakarta: Website hlm.30
9 Ibid hlm. 31
[10] Rohmat mulyana. 2005 Mengartikulasikan Pendidikan Nilai Bandung: Alfabeta hlm. 120
[11] Ibid hlm. 121
[12] Al Purwo Hadiwaryono. 2000 Pendidikan nilai budi karakter Jakarta: Bumi Aksara hlm.32
[13] Hersh, et al dikutip Teuku Ramli Zakaria. 2006 Pendekatan- pendekatan Pendidikan Nilai dan Iplementasi dalam pendidikan budi pekerti Bandung: Depdiknas hlm. 126
[14] Kompas Cyber Media hlm. 75
[15] Kirchenbaum. 2008 Humanisasi Pendidikan Jakarta: Bumi Aksara hlm. 46
[16] Marianna Richardson. 2006 Valua Education Jakarta: Bumi Aksara hlm.95
2Agus Wibowo. 2008 Mal Praktik Pendidikan Yogyakarta: Genta Press hlm. 2
[3] Mardiatmadja dikutip Rahmat Mulyono. 2004 Mengartikulasikan Nilai Budi Perkerti Bandung: Alfabeta hlm.48
[4] Mardiatmadja dikutip Rahmat Mulyono.2004 Mengartikulasikan Nilai Budi Perkerti Bandung: Alfabeta hlm.49
[5] Sastrapratedja. 2000 Pendidikan Nilai Jakarta:Gramedia hlm.3
[6] Suwito. 2004 Pendidikan Akhlak Yogyakarta:Belukar hlm.4
[7] Aristoteles dikutip Ibn Miskawaih. 2004 Menuju kesempurnaan Akhlak Bandung: Filsafat Etika hlm. 5
[8] Suyanto dikutip Suparlan.2010 Pendidikan karakter dan kecerdasan Jakarta: Website hlm.30
9 Ibid hlm. 31
[10] Rohmat mulyana. 2005 Mengartikulasikan Pendidikan Nilai Bandung: Alfabeta hlm. 120
[11] Ibid hlm. 121
[12] Al Purwo Hadiwaryono. 2000 Pendidikan nilai budi karakter Jakarta: Bumi Aksara hlm.32
[13] Hersh, et al dikutip Teuku Ramli Zakaria. 2006 Pendekatan- pendekatan Pendidikan Nilai dan Iplementasi dalam pendidikan budi pekerti Bandung: Depdiknas hlm. 126
[14] Kompas Cyber Media hlm. 75
[15] Kirchenbaum. 2008 Humanisasi Pendidikan Jakarta: Bumi Aksara hlm. 46
[16] Marianna Richardson. 2006 Valua Education Jakarta: Bumi Aksara hlm.95
Tidak ada komentar:
Posting Komentar